Banda Aceh (Ar-Raniry) — Penguatan koordinasi antarkampus menjadi salah satu upaya penting dalam membangun sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang efektif di lingkungan perguruan tinggi. Hal ini menjadi perhatian dalam diskusi lintas kampus yang melibatkan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Syiah Kuala (USK), dan UIN Ar-Raniry di Hoco, Lambhuk, Banda Aceh, Selasa malam (7/4/2026).
Diskusi tersebut diikuti Iman dari UNESA, Rivaldi dari Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) USK, serta Siti Rahmah, Khairani, dan Nurul Fitria dari Unit Layanan Terpadu (ULT) PPKS UIN Ar-Raniry. Harri Santoso dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) UIN Ar-Raniry turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Para peserta bertukar pengalaman mengenai mekanisme penanganan kekerasan, layanan pendampingan bagi sivitas akademika, serta pentingnya koordinasi antarlembaga. Pertukaran pengalaman ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas perguruan tinggi dalam memberikan perlindungan kepada warga kampus yang mengalami atau membutuhkan pendampingan terkait kekerasan.
Nasriyah mengatakan diskusi lintas kampus tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk saling berbagi pandangan sekaligus memperkuat komitmen dalam menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang aman.
“Kami bertukar pikiran dan memperkuat komitmen untuk menciptakan ruang kampus yang lebih aman bagi semua,” ujar Nasriyah.
Penguatan koordinasi lintas kampus diharapkan dapat mendukung penanganan kekerasan yang lebih efektif sekaligus mendorong terciptanya lingkungan perguruan tinggi yang aman dan inklusif. Upaya tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tentang Kesetaraan Gender, yang antara lain menekankan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
Source: warta.ar-raniry.ac.id