Banda Aceh (Ar-Raniry) — Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Ar-Raniry Banda Aceh mendorong penguatan pendidikan nonformal untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepemimpinan perempuan. Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Sharing Session bertajuk “Mendukung Indonesia Emas Melalui Transformasi Sistem Pendidikan Pemberdayaan Perempuan” yang digelar di Meeting Room Ivory, Rabu (15/7/2026).
Penguatan pendidikan nonformal menjadi perhatian karena ketimpangan gender masih memengaruhi keterlibatan perempuan dalam berbagai bidang, termasuk kepemimpinan. Dalam forum tersebut, Dr. Marduati yang mewakili PSGA UIN Ar-Raniry bersama PEGAS PEKKA, Flower Aceh, dan sejumlah institusi lainnya membahas pentingnya memperluas akses pendidikan bagi perempuan melalui jalur alternatif.
Berdasarkan data World Economic Forum (WEF) 2021 yang dibahas dalam forum, Indonesia berada di peringkat ke-101 dalam kesenjangan gender. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam upaya meningkatkan kapasitas perempuan agar memiliki kesempatan lebih luas untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan pembangunan.
“Forum ini membahas ketimpangan gender di Indonesia yang masih memengaruhi keterlibatan perempuan dalam berbagai bidang, termasuk kepemimpinan,” ujar Dr. Marduati.
Salah satu upaya yang dibahas ialah pengembangan berbagai model pendidikan alternatif yang dapat menjangkau perempuan dari latar belakang berbeda. Model tersebut meliputi Sekolah Hak Asasi Manusia (HAM) Perempuan yang dikembangkan Flower Aceh sejak 2014, Akademi Paradigta sebagai sekolah kepemimpinan perempuan di tingkat desa, serta Program Sekolah Perempuan bagi ibu rumah tangga dan kelompok marjinal.
Melalui program-program tersebut, perempuan memperoleh ruang untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan di luar pendidikan formal. Pendidikan alternatif ini juga diharapkan dapat memperkuat kemampuan perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan pembangunan di lingkungan masyarakat.
Selain memperluas akses pendidikan, pengakuan terhadap kompetensi yang diperoleh melalui jalur nonformal juga menjadi perhatian. Nashriyah menyampaikan bahwa model pendidikan tersebut sedang diupayakan agar memperoleh sertifikat keahlian resmi dan dapat diintegrasikan ke dalam program pemerintah.
Pengakuan tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat pendidikan alternatif, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau pendidikan formal. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh perempuan melalui pendidikan nonformal berpeluang mendapatkan pengakuan sekaligus mendukung peningkatan kapasitas mereka.
Penguatan pendidikan nonformal dan pemberdayaan perempuan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tentang kesetaraan gender. Upaya tersebut menekankan pentingnya memperluas kesempatan perempuan untuk mengembangkan kemampuan, meningkatkan kepemimpinan, dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Source: warta.ar-raniry.ac.id