Banda Aceh (UIN Ar-Raniry) – Perkembangan teknologi dan melimpahnya akses informasi digital telah mengubah peran dosen dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Jika sebelumnya dosen menjadi sumber utama pengetahuan, kini mereka dituntut berperan sebagai fasilitator yang mendampingi mahasiswa dalam membangun dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri.
Hal tersebut disampaikan Dr Mawardi MPd saat menyampaikan materi tentang model, pendekatan, metode, dan strategi pembelajaran pada Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) 2026 di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).
Dalam sesi yang dipandu oleh Siti Nur Zalikha MSi itu, Mawardi menjelaskan bahwa pembelajaran di era digital perlu bergeser dari pola yang berpusat pada dosen (teacher centered learning) menuju pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning).
Menurutnya, kemudahan akses informasi membuat mahasiswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dosen untuk memperoleh pengetahuan. Karena itu, dosen perlu menciptakan lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa aktif mencari, mengolah, dan mengembangkan informasi secara kritis.
“Mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk aktif membangun dan mengembangkan pengetahuannya. Dosen berperan sebagai fasilitator yang memandu proses tersebut,” kata Mawardi.
Ia menjelaskan, salah satu model yang relevan diterapkan dalam pembelajaran perguruan tinggi adalah Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk mengidentifikasi persoalan, mencari informasi dari berbagai sumber, berdiskusi, serta merumuskan solusi berdasarkan hasil analisis yang dilakukan.
Mawardi menegaskan bahwa pemilihan model pembelajaran harus disesuaikan dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Oleh karena itu, dosen perlu memahami keterkaitan antara pendekatan, strategi, model, metode, teknik, dan taktik pembelajaran agar proses belajar berlangsung efektif.
Selain membahas perubahan paradigma pembelajaran, Mawardi juga menyoroti pentingnya adaptasi dosen terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurutnya, teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana yang dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa apabila digunakan secara tepat.
“Teknologi tidak harus dihindari. Yang penting adalah bagaimana dosen mengarahkan penggunaannya agar membantu mahasiswa berpikir kritis dan memperkaya proses pembelajaran,” ujarnya.
Mawardi menambahkan bahwa kreativitas dosen tetap menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana kelas yang aktif, interaktif, dan tidak monoton. Berbagai teknik dan strategi pembelajaran perlu diterapkan agar mahasiswa terdorong untuk berpartisipasi, menyampaikan gagasan, serta terlibat secara aktif dalam proses belajar.
“Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa menjadi aktif, berani menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam proses belajar. Dosen perlu mengatur strategi agar pembelajaran tetap berlangsung dengan baik dan tidak membosankan,” tuturnya.
Source: warta.ar-raniry.ac.id