Banda Aceh (Ar-Raniry) — Di tengah derasnya arus informasi selama pandemi Covid-19, media tidak hanya berperan menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas. Hal ini diungkap dalam buku “Framing Virus Corona di Media Cetak Indonesia” karya Abdul Rani Usman, dosen Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.
Buku tersebut menjadi bahan kajian yang dianalisis oleh Iklima, mahasiswa (KPI) UIN Ar-Raniry, Rabu (8/4/2026). Ia menyoroti bagaimana media cetak di Indonesia membingkai pemberitaan terkait Covid-19.
Buku yang terbit pada tahun 2020 ini mengkaji framing media terhadap pandemi dengan fokus pada tiga media nasional, yakni Republika, Harian Analisa, dan Serambi Indonesia.
Menurut penulis, framing media tidak bersifat netral. Media kerap membangun narasi tertentu, seperti menggambarkan China dalam dua sisi, yaitu sebagai sumber masalah sekaligus bagian dari solusi dalam penanganan pandemi. Selain itu, penggunaan istilah seperti “ancaman global” dan “kerja sama internasional” dinilai turut membentuk persepsi publik serta memberikan legitimasi terhadap kebijakan tertentu.
Dalam pembahasannya, buku ini juga menyoroti peran organisasi internasional seperti World Health Organization (WHO) dalam membentuk wacana global. Pernyataan tokoh dunia dan lembaga internasional sering digunakan media sebagai sumber legitimasi dalam pemberitaan.
Iklima menilai bahwa buku ini tidak hanya membahas isi berita, tetapi juga mengaitkannya dengan konteks global dan kepentingan yang melatarbelakangi pemberitaan. Ia juga menambahkan bahwa fenomena wabah bukan hal baru dalam sejarah peradaban manusia, termasuk dalam tradisi Islam yang mengenal istilah tha’un.
Secara keseluruhan, kajian ini menunjukkan bahwa selama pandemi, masyarakat tidak hanya menghadapi virus biologis, tetapi juga “virus informasi”. Oleh karena itu, literasi media menjadi penting agar publik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mengkritisinya. [ ]
Source: warta.ar-raniry.ac.id