Banda Aceh (Ar-Raniry) — Duek Pakat Inong Aceh (DPIA) ke-V membahas penguatan hak dan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan untuk mendorong pembangunan Aceh yang responsif gender dan inklusif. Forum yang diikuti ratusan peserta dari unsur pemerintah, legislatif, tokoh perempuan, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil tersebut berlangsung di Asrama Haji Kota Banda Aceh pada 29–31 Oktober 2024.
Mengusung tema “Mendorong Peningkatan Agensi dan Partisipasi Bermakna Perempuan Aceh dalam Kepemimpinan Baru Aceh dan Indonesia”, DPIA-V menyoroti persoalan perempuan di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Pembahasan ini diarahkan pada situasi pemenuhan hak perempuan serta peluang di setiap wilayah yang perlu mendapat perhatian.
Ketua Panitia DPIA-V, Amrina, mengatakan forum tersebut juga membahas strategi pelaksanaan DPIA-V dan pengembangan Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA) ke depan.
“Kami juga akan mendiskusikan strategi, pendekatan pelaksanaan DPIA V dan pengembangan BSUIA ke depan,” pungkas Amrina.
Salah satu hasil penting DPIA-V adalah terpilihnya presidium baru Balai Syura Ureung Inong Aceh untuk periode 2024–2029. Presidium tersebut diharapkan dapat mengawal aspirasi perempuan Aceh dan memperjuangkan pemenuhan hak-hak mereka.
Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr. Nashriyah, turut menghadiri forum tersebut bersama perwakilan berbagai kalangan.
Penguatan hak dan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan menjadi bagian dari upaya mewujudkan Kesetaraan Gender, yang mendorong kesetaraan hak dan pemberdayaan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Sumber: warta.ar-raniry.ac.id