Banda Aceh (Ar-Raniry) — Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh meluluskan 157 sarjana strata 1 pada Kamis (11/6/2026) di Aula Lantai 3 Gedung SBSN kampus setempat.
Dekan, Prof Salman Abdul Muthalib, dalam sambutannya menegaskan bahwa yudisium bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab sosial yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Yudisium bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya di tengah masyarakat. Gelar sarjana yang hari ini saudara peroleh bukan hanya simbol keberhasilan akademik, tetapi juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt., kepada almamater, dan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya integritas dan kontribusi aktif lulusan di tengah tantangan global.
“Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, masyarakat membutuhkan sosok sarjana yang mampu menjadi pencerah, pemikir, peneliti, pendidik, dan agen perubahan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FUF, Prof Maizuddin, menyebutkan peserta yudisium terdiri atas 42 lulusan gelombang pertama dan 115 lulusan gelombang kedua, dengan komposisi 80 laki-laki dan 77 perempuan.
“ke 157 yudisia berasal dari lima program studi, yaitu Aqidah dan Filsafat Islam, Studi Agama-Agama, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Sosiologi Agama, serta Ilmu Hadis,” ungkapnya dalam laporan resmi akademik.
Orasi Ilmiah: Kesehatan Mental dalam Perspektif Filsafat Islam
Pada kesempatan itu, akademisi UIN Ar-Raniry, Prof Ernita Dewi, dalam orasi ilmiahnya menyoroti meningkatnya persoalan kesehatan mental di era digital yang ditandai oleh perubahan sosial yang sangat cepat.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi membawa dampak signifikan terhadap kondisi psikologis masyarakat, termasuk meningkatnya stres, depresi, dan gangguan mental.
“Perubahan sosial yang terjadi saat ini berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut membuat banyak orang tidak siap beradaptasi sehingga berpengaruh terhadap kesehatan mental masyarakat,” ungkapnya.
Ernita menambahkan, kesehatan jiwa tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga spiritualitas dan makna hidup.
“Jiwa yang sehat tidak dapat dipisahkan dari kedekatan kepada Allah, interaksi sosial yang baik, serta kemampuan manusia memahami makna hidup secara benar,” pungkasnya. [ ]
Sumber: warta.ar-raniry.ac.id