Lewati ke konten utama
Sustainable Development Goals UIN Ar-Raniry mendukung Sustainable Development Goals Situs utama UIN Kontak
Logo UIN Ar-Raniry SDGs. UIN AR-RANIRY BANDA ACEH
SDG 4 SDG 11 SDG 13 SDG 16

Banjir Sumatera Bukan Hukuman Tuhan, Dosen UIN Ar-Raniry Tekankan Tanggung Jawab Manusia

Banda Aceh (Ar-Raniry) -- Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk H Rahmadon Tosari Fauzi, menegaskan bahwa Al-Quran Surat Luqman ayat 20 me...

Banda Aceh (Ar-Raniry) -- Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk H Rahmadon Tosari Fauzi, menegaskan bahwa Al-Quran Surat Luqman ayat 20 mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Hal itu disampaikannya dalam refleksi “Proyek Ramadhan” melalui Tadarus Ayat Quraniyah, Kamis (26/2/2026).

Rahmadon menjelaskan bahwa ungkapan “menundukkan langit dan bumi” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa alam semesta telah diatur secara tepat sehingga manusia dapat hidup dengan aman di bumi. Ia mencontohkan keberadaan udara, medan magnet, dan gravitasi yang menjaga kestabilan kehidupan sebagai bentuk keteraturan ciptaan Allah.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa nikmat lahir tidak hanya berupa udara dan air, tetapi juga sistem alam seperti siklus air yang terus berjalan. Sementara itu, nikmat batin tampak pada kemampuan akal manusia untuk berpikir, memahami, serta mengambil pelajaran dari fenomena alam.

Menurut Rahmadon, pemahaman terhadap nikmat alam tersebut seharusnya mendorong manusia untuk menjaganya. Namun, ia menilai kerusakan lingkungan justru menjadi salah satu penyebab meningkatnya bencana alam, termasuk banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada November 2025.

Ia mencontohkan hujan ekstrem di Aceh Tamiang, Tapanuli Utara, dan Agam yang dampaknya semakin parah akibat kerusakan daerah aliran sungai (DAS) karena penebangan hutan.

 “Ketika hutan di bagian hulu rusak, hujan yang seharusnya menjadi nikmat bisa berubah menjadi bencana. Ini terjadi karena manusia merusak keseimbangan alam yang telah Allah siapkan untuk kebaikan,” ujarnya.

Rahmadon juga mengkritik kebiasaan saling menyalahkan saat bencana terjadi, seperti hanya menyalahkan cuaca atau pemerintah tanpa disertai upaya solusi nyata. Menurutnya, minimnya pemulihan hutan dan DAS mencerminkan kelalaian manusia dalam menjalankan tanggung jawab menjaga alam.

Memasuki Ramadhan 1447 Hijriah, ia mengajak umat Islam menerapkan pesan Al-Quran melalui kepedulian terhadap lingkungan. Ia mendorong agar ibadah di bulan suci diiringi aksi nyata, seperti sedekah untuk penanaman pohon serta peningkatan literasi sains di masjid.

Rahmadon menegaskan bahwa banjir Sumatera 2025 bukanlah hukuman Tuhan, melainkan akibat kelalaian manusia dalam menjaga alam. “Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga saat yang tepat untuk berubah menjadi lebih peduli terhadap lingkungan. Menanam satu pohon berarti menjaga satu kehidupan. Inilah iman yang melahirkan tindakan dan solusi,” pungkasnya.

Sumber: warta.ar-raniry.ac.id